Komentar Dendi Dota 2 Soal Komunitas yang Sangat Toksik

Komentar Dendi Dota 2 Soal Komunitas yang Sangat Toksik

Dendi Dota 2 merupakan salah satu veteran di permainan yang kini memperkuat tim B8 di wilayah Eropa/CIS. Baru-baru ini ia mengutarakan pendapatnya terkait dengan komunitas toksik di sebuah podcast. Ia memikirkan tentang bagaimana cara mengurangi tingkat toksisitas, yang sering terjadi dalam matchmaking publik.

DIlansir dari VPEsports dan Win.gg, dalam sebuah video di saluran YouTube organisasi B8, Dendi tampaknya sudah mulai geram dengan pemain toksik. Ia merasa bahwa toksisitas memang tak bisa lagi dihindari dan semakin ramai. Tak dapat dimungkiri bahwa karakteristik permainanlah yang kemudian membuat pemain bersifat demikian.

Ya, Dota 2 bukanlah permainan mudah bahkan bisa dibilang itu sangat rumit. Dibutuhkan kerja sama tim, strategi dan keterampilan individu untuk memenangkan pertandingan. Dendi Dota 2 mengatakan toksik hampir tak bisa dihindari baik oleh yang melakukannya atau rekan satu timnya.

“Biasanya pemain yang bermain lebih sering akan lebih terpapar hal-hal semacam ini. Itu adalah masalah yang hampir tak bisa dihindari,” ujarnya dalam podcast dilansir dari VPEsports. “Apabila Anda memainkan 10-12 game per hari, reaksi seperti itu sangat wajar,” tambahnya.

Baca Juga : Ketika EVOS Legends Gagal Juara MPLI, Pendragon Langsung Menangis

Dendi mencoba mengulik lebih dalam tentang akar masalah dari tingginya toksisitas di Dota 2. Menurutnya Dota adalah permainan tim yang gila, tetapi sebagian besar pemainnya justru bermain solo. Untuk menaikkan MMR, para pemain harus bermain sendirian dan itu sangat berpengaruh terhadap kondisi pikiran.

“Pada saat Anda harus bermain sendirian pada sebuah permainan yang membutuhkan kerja sama tim itu akan sulit. Apabila ada hal-hal yang gagal dilakukan, maka Anda pasti akan berapi-api,” tambahnya.

Dendi mencoba menawarkan solusi untuk menurunkan tingkat toksisitas di komunitas Dota 2. Walaupun, itu mungkin tidak akan mudah dan sulit diwujudkan oleh pengembang permainan. Salah satu solusinya adalah dengan menghapus sistem matchmaking dan mengurangi tuntutan kepada pemain.

Dendi juga mengatakan bahwa di tingkat tinggi dan sangat tinggi, pemain membutuhkan sistem liga. Menurutnya sistem tersebut pasti akan sangat diterima oleh para pemain berperingkat tinggi.

Baca Juga : Banjir Kritikan Pedas, Inilah Balasan Zeys EVOS untuk Netizen

Bagi para pemain kasual, Dota 2 adalah permainan untuk menghibur diri dan bersantai. Sementara mereka yang berada di peringkat 200 atau 100 teratas punya pertaruhan lebih tinggi dalam permainan. Maka dari itu harusnya ada perbedaan sistem antara pemain berperingkat rendah dan tinggi.

“Seharusnya mereka dibiarkan bermain di sebuah liga tertutup. Di sana mereka dapat menjadi seperti seorang pemain pro atau sejenisnya,” kata Dendi.

Pada Mei lalu, ada sebuah penelitian yang mengungkap betapa toksiknya komunitas Dota 2 di Reddit. Mereka menyaring kata-kata kasar yang muncul di kelompok penggemar video game terkenal termasuk Dota.

Itu baru di luar permainan, sementara di arena permainan para pemain akan lebih sering menemukan hal semacam itu. Saran dari Dendi Dota 2 pun cukup masuk akal jika melihat situasinya sekarang.

 

admin

Postingan Terbaru

Read also x